Akan Ada Saatnya Kita ke Baitullah Tanpa Mikir Biaya Lagi
Setiap kali ada niatan umroh, satu pertanyaan sering menghentikan langkah: “Biayanya dari mana?” Ini wajar dan manusiawi.
Karena kita sering lupa bahwa rezeki Allah untuk membawa kita ke Baitullah bisa datang dari jalan yang tidak pernah kita bayangkan.
Sebenarnya, pertanyaan kita bukan, “Berapa biaya yang harus aku siapkan?” tetapi lebih kepada, “Apa yang bisa aku lakukan agar Allah memudahkan jalanku ke Baitullah?”
Kita sering terjebak pada logika sendiri, menghitung kemampuan diri, sampai lupa bahwa rezeki Allah tidak terbatas pada apa yang ada di tangan kita hari ini.
Tugas kita adalah berdoa, berikhtiar, dan terus percaya. Selebihnya, biarkan Allah yang mengatur jalannya.
Rezeki tidak hanya datang dalam bentuk uang yang sudah tersedia di rekening. Allah berkuasa atas pintu-pintu rezeki yang tidak pernah kita bayangkan.
Jangan terlalu cepat mengatakan, “Aku belum mampu umroh.”
Tetaplah bekerja. Tetaplah berusaha. Makin giatkan ikhtiar. Bukan semata-mata karena kita yakin hasilnya akan sesuai dengan apa yang kita inginkan, tetapi karena ikhtiar adalah bagian dari kewajiban kita.
Urusan hasil, sepenuhnya kita serahkan kepada Allah. Biarkan Allah yang mengatur jalannya.
Kita memang punya keterbatasan. Tetapi Allah tidak terbatas.
Karena akan ada saatnya kita sampai ke Baitullah, lalu tersenyum dan berkata dalam hati:
“Ternyata Allah benar-benar membukakan jalannya.”
Terus Berharap hanya kepada Allah.
Teruslah berikhtiar. Teruslah mengetuk pintu langit dengan doa-doa yang mungkin belum kita lihat jawabannya.
Kita tidak pernah tahu kapan Allah akan mengubah keadaan. Kita juga tidak pernah tahu dari mana Allah akan mendatangkan rezeki.
Yang kita tahu, Allah Maha Mengetahui apa yang kita butuhkan dan kapan waktu terbaik untuk memberikannya.
Titipkan keinginan itu kepada Allah. Rawat dengan doa, perjuangkan dengan ikhtiar, dan serahkan hasilnya kepada-Nya.
Suatu hari nanti, tanpa pernah kita sangka sebelumnya, kerinduan kita akan terjawab. Allah mengundang kita menjadi tamu-Nya.
Dan ketika kaki akhirnya menginjak tanah suci, mungkin kita hanya mampu tersenyum, meneteskan air mata, lalu berkata:
“Ya Allah… ternyata benar. Kalau Engkau sudah berkehendak, tidak ada yang tidak mungkin.”